A. Pengorganisasian Struktur Manajemen
1. Definisi Pengorganisasian
Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa
Yunani yang berarti alat, yaitu proses pengelompokkan kegiatan –kegiatan untuk
mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer
(Terry & Rue, 2010: 82). Manajemen sangat berhubungan erat dengan
organisasi sebagai suatu wadah atau tempat manajemen itu akan berperan aktif.
Organisasi tanpa
manajemen yang baik akan mengakibatkan rutinitas
organisasi tidak dapat
bertahan lama. Untuk lebih jelas, dalam hal ini
beberapa definisi yang menjadi
titik tolak dalam uraian-uraian selanjutnya, yakni:
1) Organisasi adalah sebuah unit sosial yang
dikoordinasikan secara sadar, terdiri
atas dua orang atau lebih dan yang relatif
terus-menerus guna mencapai satu
atau serangkaian tujuan bersama (Robbins dan Judge,
2008:5).
2) Organisasi adalah suatu wadah yang dibentuk untuk
mencapai tujuan bersama
secara efektif (Wibowo, 2007:1).
3) Organisasi adalah suatu sistem perserikatan
formal, berstruktur, dan
terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja
sama dalam mencapai
tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan
wadah saja (Hasibuan,
2004:120).
definisi organisasi yaitu suatu wadah yang terdiri dari kumpulan orang yang
terikat dengan hubungan-hubungan formal dalam rangkaian terstruktur untuk
mencapai tujuan bersama secara efektif.
2. Pengorganisasian sebagai fungsi manajemen
Menggabungkan semua orang yang terlibat dalam suatu
kegiatan atau beberapa
kegiatan terkait menjadi satu bagian. Sebagai contoh
sebuah organisasi dibagi
berdasarkan fungsi bila mempunyai bagian-bagian
produksi, pemasaran, dan
penjualan yang secara terpisah.
Struktur organisasi ini mempunyai
kelebihan-kelebihan sebagai berikut:
1. Cocok bagi lingkungan stabil.
2. Menunjang
pengembangan keahlian.
3. Memberi kesempatan bagi para spesialis.
4. Hanya memerlukan koordinasi minimal
5. Hanya memerlukan keperluan antar pribadi yang
kecil
B. Actuating Manajemen
1. Definisi actuating
Actuating adalah merupakan usaha menggerakan
anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan
berusaha untuk mencapai suatu sasaran. Menurut Siagan, keseluruhan usaha, cara, teknik, dan
metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja
dengan sebaik mungkin demi tercapainya, tujuan organisasi yang efektif ,
efisien dan ekonomis.
2. Pentingnya actuating
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam
pelaksanaan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi
untuk mengerjakan sesuatu jika :
a. merasa yakin akan mampu mengerjakan
b. yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat
bagi dirinya
c. tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau
tugas yang lain yang lebih penting atau mendesak
d. tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang
bersangkutan
e. hubungan antar teman dalam organisasi tersebut
harmonis
3. Prinsip actuating
Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan
yang mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya
secara efektid serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Di dalam
manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut
manusia juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri.
Manusia dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda. Ada beberapa prinsip
yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan dalam melakukan pengarahan yaitu :
1. prinsip mengarah kepada tujuan
2. prinsip keharmonisasian dengan tujuan
3. prinsip kesatuan komando
Pada umumnya pimpinan menginginkan pengarahan kepada
bawahan dengan maksud agar mereka bersedia untuk bekerja sebaik mungkin, dan
diharapkan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip di atas. Cara-cara pengarahan
yang dilakukan dapat berupa :
a. orientasi
merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
b. perintah
merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang yang berada di bawahnya untuk melakukn atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu
merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang yang berada di bawahnya untuk melakukn atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu
c. delegasi wewenang
dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan
melimpahkan sebagian dari wewenang yang dimilikinya kepada bawahannya.
C. Mengendalikan fungsi manajemen
1. definisi controlling
Pengendalian adalah fungsi terakhir dari proses manajemen, pengendalian sangat menentukan pelaksanaan dari proses manajemen maka dari itu pengendalian harus di lakukun dengan sebaik-baiknya.
2. Kontrol sebagai proses manajemen
Kendali, sering juga disebut Pengawasan,
Controlling atau, sering juga disebut pengendalian adalah satu diantara
beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan
koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar
dengan tujuan yang telah digariskan semula. Bila ditinjau dari proses, maka
proses itu adalah proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian
kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan bisa berjalan sesuai target
yang diharapkan.
Pengawasan merupakan tindakan seorang
manejer untuk menilai dan mengendalikan jalan suatu kegiatan yang mengarah demi
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan
Ada banyak pengertian fungsi controlling
menurut beberapa pakar, di antaranya:
· Pada
tahun 1916, Henri Fayol merumuskan
salah satu definisi pertama kontrol karena berkaitan dengan manajemen. Adalah
pengendalian suatu usaha terdiri dari melihat bahwa segala sesuatu yang sedang
dilakukan sesuai dengan rencana yang telah diadopsi, perintah yang telah
diberikan, dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Controlling sangat
penting untuk mengetahui kesalahan agar mereka dapat diperbaiki dan dicegah
dari berulang.
· Menurut George
R. Terry, pengawasan (controlling) yaitu untuk mengawasi
apakah gerakan dari organisasi ini sudah sesuai dengan rencana atau belum.
Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa terpakai
secara efektif dan efisien tanpa ada yang melenceng dari rencana.
· Menurut Harold Koontz, pengendalian adalah pengukuran
dan koreksi kinerja dalam rangka untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan
perusahaan dan rencana yang dirancang untuk mencapainya tercapai.
Dari pengertian diatas dapat dinyatakan
ada hubungan Antara controlling dan perencanaan. Perencanaan (planning)
yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan dan penyusunan langkah-langkah yang
akan dipakai untuk mencapai tujuan.
Empat elemen dasar dalam sistem
kontrol :
- Karakteristik atau kondisi yang akan dikontrol
- Sensor
- Komparator
- Aktivator
Keempat elemen dasar tersebut terjadi dalam urutan yang sama dan
menjaga hubungan yang konsisten satu sama lain dalam setiap sistem.
1. Karakteristik atau kondisi dari sistem
operasi yang akan diukur. Karakteristik dapat berupa output dari sistem dalam
tahap pemrosesan atau mungkin suatu kondisi yang merupakan hasil dari sistem.
Sebagai contoh dalam sistem sekolah dasar para jam kerja guru atau keunggulan
pengetahuan yang ditunjukkan oleh siswa pada ujian nasional adalah contoh
karakteristik yang dapat dipilih untuk pengukuran atau kontrol.
2. Sensor, merupakan sarana untuk
mengukur karakteristik atau kondisi. Sebagai contoh dalam sistem kontrol
pengukuran kualitas dapat diandaikan oleh inspeksi visual dari produk.
3. Komparator, menentukan kebutuhan
koreksi dengan membandingkan apa yang terjadi dengan apa yang telah
direncanakan. Beberapa penyimpangan dari rencana adalah biasa dan diharapkan,
tetapi ketika berada di luar variasi yang dapat diterima tindakan korektif
diperlukan. Ini melibatkan semacam tindakan pencegahan yang menunjukkan bahwa kontrol
yang baik sedang dicapai.
4. Aktivator, adalah tindakan korektif
diambil untuk mengembalikan sistem ke output yang diharapkan. Contohnya adalah
seorang karyawan diarahkan ulang untuk bagian-bagian yang gagal lulus
pemeriksaan mutu atau kepala sekolah yang memutuskan untuk membeli buku-buku
tambahan untuk meningkatkan kualitas siswa. Selama rencana dilakukan dalam
batas-batas yang diijinkan tindakan korektif tidak diperlukan.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian :
Ø Mengevaluasi
keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator
yang telah ditetapkan
Ø Mengambil
langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan
Ø Melakukan
berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian
tujuan dan target bisnis
3. Tipe-tipe kontrol
Ada tiga tipe pengawasan (controlling), yaitu :
1. Pengawasan
pendahuluan
Dirancang untuk mengantisipasi adanya
penyimpangan dari standar atau tujuan
dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu
diselesaikan.
dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu
diselesaikan.
2. Pengawasan
yang dilakukan bersama dengan pelaksanaan kegiatan.
Merupakan proses di mana aspek tertentu
dari suatu prosedur harus disetujui
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan - kegiatan bisa
dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan - kegiatan bisa
dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
D. Motivasi
1. definisi motivasi
Motivasi dapat dipandang sebagai satu ciri
yang ada pada calon tenaga kerja ketika diterima masuk bekerja di perusahaan, dibawa
masuk oleh tenaga kerja. Motivasi adalah suatu proses dimana
kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan
yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu.
2. teori-teori motivasi
a. teori kebutuhan
ada empat teori kebutuhan, yaitu :
1). Teori hierarki kebutuhan maslow
Tidak ada perbedaan struktur kebutuhan
karyawan antara dua etnik , susunan kepentingan dari setiap kebutuhan menurut
teori Maslow tersebut adalah sama. Faktor gaji sebagai kebutuhan fisik yang
tinggi diikuti oleh kebutuhan rasa aman dan hubungan sosial di antara teman
kerja yang baik, selanjutnya diikuti pula dengan adanya rasa harga diri atau
pengakuan kerja dan aktualisasi diri dalam hubungannya dengan pencapaian
kepuasan kerja dan kepuasan pribadi disertai juga dengan prestasi kerja yang
tinggi.
2). Teori E.R.G. Alderfer
Menunjukan bahwa adanya perbedaan secara
signifikan dalam kebutuhan kerja kecuali kebutuhan pertumbuhan (growth). Karena
teori ini mendapati bahwa tidak setegas yang diungkapkan oleh teori hierarki
maslow.
3). Teori dua faktor herzberg
Melalui teori motivasi mereka mengatakan
bahwa teori hygiene dan motivator menunjukan bagaimana kepuasan dan
produktivitas tersebut berhubungan erat. Menurut mereka faktor-faktor yang
membawa kepuasan adalah beberapa dari faktor-faktor yang membawa ketidakpuasan.
Mereka menambahkan pula bahwa hanya faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepuasan kerja saja yang berhubungan dengan produktivitas kerja secara
terus-menerus.
4.) Teori kebutuhan berperestasi McClelland
Merupakan perintis awal dimana dia
menunjukkan bahwa kebutuhan untuk menggali informasi yang ada di dalam diri
individu dapat diukur dengan cara mengungkap apa yang mereka rasakan dalam
situasi terkontrol. Caranya adalah menggunakan alat ukur kepribadian yang
berbentuk tes proyeksi lazim disebut sebagai TAT.
b. Teori Harapan
dalam teori ini terdapat 3 teori, yaitu :
1). Teori jalur harapan
Teori jalur tujuan ini mempunyai kesamaan dengan teori keadilan yang
mendasarkan diri pada institusi yang solid. Hasil-hasil penelitian yang
menggunakan jalur tujuan ini memberi deskripsi tentang kemungkinan yang memberi
manfaat yang potensial terhadap perkembangan dan kemajuan suatu organisasi.
2). Teori
Valance-Instrumentality-Expectancy (VIE)
Penelitian tentang pengaruh motivasi
terhadap prestasi kerja oleh Lawler (1966). Tujuan untuk mengetahui tentang
pengaruh ganjaran dan prestasi (instrumentality) dan kemampuan berusaha
terhadap prestasi. Hubungan antara prestasi, ganjaran, dan nilai produktivitas
kerja ini dapat dilihat dari teori motivasi Valence-Instrumentality dan
Expectancy (VIE). Teori ini menyarankan bahwa motivasi merupakan hasil dari
tiga hubungan tersebut (Bacon, 1986), yaitu :
1. harapan seseorang berusaha untuk
memperoleh prestasi yang tinggi
2. prestasi akan memperoleh ganjaran
3. nilai yang diperoleh dari ganjaran yang
telah diterima
3). Teori Porter & Lawler
Mendapati bahwa uang merupakan faktor
kebutuhan yang paling penting diberikan sebagai titik tolak untuk meningkatkan
motvasi kerja, mengurangi ketidakpuasan kerja dan meningkatkan produktivitas
kerja.
c. Teori Keadilan
menunjukan bahwa ganjaran yang bersifat
kedisiplinan positif akan meningkatkan motivasi, kepuasan dan rasa keadilan. Sebaliknya
bila ganjaran diberikan dalam bentuk hukuman yang tidak tepat akan
mengakibatkan motivasi kerja dan kepuasan kerja menjadi rendah dan dapat
menimbulkan rasa ketidakadilan.
3. definisi motivasi kerja
Sekelompok kebutuhan yang belum dipuaskan
menciptakan suatu ketegangan yang menimbulkan dorongan-dorongan untuk melakukan
serangkaian kegiatan (berperilaku mencari) untuk menemukan dan mencapai
tujuan-tujuan khusus yang akan memuaskan sekelompok kebutuhan tadi yang
berakibat berkurangnya ketegangan. Pada tahap ‘dorongan-dorongan’ dan tahap
‘melakukan kegiatan’ individu berada dalam situasi pilihan : tujuan-tujuan apa saja yang ingin dan
diperkirakan dapat dicapai, yang diharapkan akan memenuhi kelompok kebutuhan
apa saja.
A. Definisi Kepuasan
Kerja
Handoko dan Asa'ad menjelaskan bahwa kepuasan kerja merupakan penilaian
atau cerminan dari perasaan pekerja terhadap pekerjaannya. Hal ini tampak dalam
sikap positif pekerja terhadap pekerjaanya dan segala seusatu yang dihadapi
lingkungan kerjanya, Dampak kepuasan kerja perlu dipantau dengan mengaitkannya
pada outout yang dihasilkannya.
B. Aspek-Aspek
Kepuasaan Kerja
Lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu
1. Pekerjaan itu sendiri (Work It self)
Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan
bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan
seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan
meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
2. Atasan (Supervisior)
Atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan,
atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
3. Teman sekerja (Workers)
Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan
atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis
pekerjaannya.
4. Promosi (Promotion)
Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh
peningkatan karir selama bekerja.
5. Gaji/Upah (Pay)
Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau
tidak.
C. Faktor-Faktor
Penentu Kepuasan Kerja
- Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan karyawan terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi karyawan dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi.
- Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan/suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
- Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya. Hal ini meliputi; rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang wajar.
- Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan. Hal ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
Contoh Kasus :
Hilangnya Motivasi Kerja
Disebuah perusahaan multinasional yang sangat maju
bergerak dalam bidang produksi segala macam makanan dan mempunyai banyak
karyawan serta para pemimpinnya merupakan manajer-manajer yang sangat handal.
Setiap manajer mempunyai beberapa bawahan yang bekerja sesuai dengan departemen
masing-masing. Paling tidak ada seorang manajer pabrik yang memimpin delapan
orang manajer yang bekerja di perusahaan tersebut, yaitu manajer produksi,
manajer pengendalian mutu produksi, manajer pemasaran, manajer personalia,
manajer hrd, manajer keuangan, manajer akuntansi, dan manajer humas.
Nama manajer pabrik dikenal dengan sebutan godam,
kemudian nama-nama para manajer yang memimpin setiap departemen berturut-turut,
yaitu : manajer produksi adalah romanza, manajer multi produksi disebut saja
grogerio, manajer pemasaran dikenal dengan sebutan tamara, manajer personalia
adalah boma, manajer hrd lebih terkenal dengan nama rozalinda, manajer keuangan
dikenal dengan cuter, manajer akuntansi disapa dengan nama borsalino dan yang
terakhir manajer humas yaitu brando.
Para manajer tersebut mempunyai tugas dan tanggung
jawab masing-masing dalam memimpin para staf dan bawahannya. Dalam bekerja,
mereka selalu menunjukkan kejujuran, kerja sama, dedikasi, loyalitas dan
komitmen yang tinggi untuk memajukan perusahaan. Mereka sering kali memberi
dukungan dan motivasi kerja kepada karyawan bawahannya agar selalu dapat
memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Selama beberapa tahun perusahaan
tersebut telah membuktikan diri dapat melakukan kompetisi dengan perusahaan
sejenis secara memuaskan dan usaha pengembangan dan kemajuan yang sejenis
secara memuasakan, dan usaha pengembangan serta kemajuan yang dilakukan oleh
manajer bersama para staf dan bawahannya telah terbukti menunjukan
produktivitas dan prestasi kerja yang sangat memuaskan disemua departemen.
Namun selama satu bulan terakhir ini, situasi dan
kondisi perusahaan mengalami berbagai perubahan kebijakan dan sistem pemberian
ganjaran baik yang berupa kebutuhan fisiologi, sosial maupun psikologi yang
dilakukan oleh para direksi perusahaan. Para manajer mencoba memahami segala
perubahan kebijakan dan sistem yang
dilakukan oleh para direksi perusahaan. Dengan harapan bahwa perubahan
kebijakan dan sistem ini tidak memengaruhi para staf manajerial dan bawahan
mereka di masing-masing dapartemen. Hasil sosialisasi dari perubahan kebijakan
dan sistem tersebut menunjukan perubahan tingkah laku secara drastis diantara
staf manajerial dan para bawahan. Sebagian besar dari mereka mulai kehilangan
semangat dan motivasi kerja seta berakibat cukup serius bagi eksistensi
perusahaan makanan tersebut. Produktivitas dan prestasi kerja di antara staf
manajerial dan para karyawan mulai menunjukan penurunan yang dramatis.
Analisis :
Didalam kasus ini terdapat empat teori yang terkait didalamnya, diantaranya adalah : teori hierarki kebutuhan Maslow, teori ERG Alderfer, teori dua faktor herzberg, dan teori kebutuhan berprestasi McClelland.
SUMBER :
Wijono,
Sutarto. 2011. Psikologi Industri Dan
Organisasi. Jakarta: Media GrafikaMunandar,
Ashar Sunyoto. 2008. Psikologi Industri
Dan Organisasi. Jakarta: Universitas IndonesiaWaluyo,
Minto. 2013. Psikologi Industri.
Jakarta: Akademia Permata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar