Minggu, 29 Maret 2015

Psikoterapi II

PERBEDAAN PSIKOTERAPI & KONSELING

     Upaya untuk membedakan konseling dengan psikoterapi telah lama dilakukan berbagai pihak, namun tidak pernah berhasil dengan memuaskan. Karena itu bagi sekelompok ahli, upaya membedakan konseling dan psikoterapi dirasakan tidak perlu dilakukan lagi dan sebaiknya keduanya diterima sebagai kegiatan yang sinonim.
     Blocher (1966) mengemukakan ciri-cirinya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi, sebagai berikut :
1. Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan dan secara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya.
2. Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.
3. Klien adalah klien dan bukan pasien. Konselor bukanlah tokoh otoriter namun adalah seorang "pendidik" dan "mitra" dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan.
4. Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai-nilai, perasaan dan normanya sendiri; meskipun konselor tidak perlu memaksakan hal ini kepada klien, namun ia juga tidak menutupinya.
5. Konselor memusatkan pada perubahan perilaku, tidak hanya menumbuhkan pengertian.
     Perbedaan mengenai metode ini kemudian diringkas oleh Stefflre & Grant (1972) sebagai berikut :
"Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuaannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens, lebih menekankan pada situasi yang rill, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya."
     Mengenai perbedaan konseling dan psikoterapi , dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977) dan Thompson & Rudolph (1983) dibawah ini :
1. Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti : "educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time, dan short-term"
2. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh : "supportive (dalam keadaan kritis), reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long-term".
     Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson & Rudolph (1983), sebagai berikut :
1. Konseling untuk : Klien, Gangguan yang kurang serius, Masalah; jabatan, pendidikan, Berhubungan dengan pencegahan, Lingkungan pendidikan dan nonmedis, Berhubungan dengan kesadaran, Metode pendidikan.
2. Psikoterapi untuk : Pasien, Gangguan yang serius, Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan, Berhubungan dengan penyembuhan, Lingkungan medis, Berhubungan dengan ketidaksadaran, Metode penyembuhan.


BENTUK-BENTUK UTAMA TERAPI

     Beberapa bentuk utama dalam terapi, adalah sebagai berikut :
1. Terapi Rekonstruktif
     Merupakan terapi yang menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Tujuannya adalah untuk merubah kepribadian sehingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru. Cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain yang berorientasi kepada psikoanalisa dengan cara : asosiasi bebas, analisis mimpi, hipoanalisa/sintesa, narkoterapi, terapi main, terapi kelompok analitik.
2. Terapi Supportif
     Adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Psikoterapi ini juga berfungsi untuk mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan fungsi pengontrolan diri. Terakhir yang tergolong dalam psikoterapi ini adalah penyuluhan (membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih baik agar ia dapat mengatasi permasalahannya dan dapat menyesuaikan diri).
3. Terapi Redukatif
     Adalah pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasikan tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada. Cara-cara psikoterapi redukatif antara lain adalah terapi hubungan antar manusia, terapi sikap, terapi wawancara, analisa dan sintesa yang distributif, konseling terapeutik, terapi kelompok yang redukatik dan terapi somatik.

Sumber :
Gunarsa, Singgih D. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
http://id.scribd.com/doc/27950595/psikoterapi-suportif
Mappiare, Andi. (1992). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo

Rabu, 18 Maret 2015

Psikoterapi I (Minggu I)

Pengertian Psikoterapi

    Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni "psyhe" yang artinya jelas, yaitu "mind" atau sederhananya : jiwa dan "therapy" dari Bahasa Yunani yang berarti "merawat" atau "mengasuh". Sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah "perawatan terhadap aspek kejiwaan" seseorang. Dalam Oxford English Dictionary, perkaraan "psychotherapy" tidak tercantum, tetapi ada perkataan "psychotherapeutic' yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Istilah psikoterapi (psychotherapy), mempunyai pengertian yang cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling), kerja sosial (case work), pendidikan dan ilmu agama. Psikoterapi adalah pengobatan penyakt dengan cara kebatinan atau penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit dan mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari atau penyembuhan lewat keyakinan agama, dan diskusi personal dengan para guru atau teman.

Tujuan Psikoterapi 
     
     Adapun tujuan psikoterapi adalah sebagai berikut :
1. Mengubah perilaku yang tidak diinginkan
2. Mencari "growth experience"
3. Mengubah perilaku yang menyebabkan klien merasa tidak bahagia
4. Rekonstruksi karakter dan kepribadian
5. Klien dapat melakukan kontrol diri lebih baik

     Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribdaian dilakuan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
     Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumskan sebagai: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman - pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual. 
     Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah: Untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik. 
     Corey (1991) merumuskan tujuan psikoterapi pada terpusat pada pribadi dengan: Untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal - hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek - aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
     Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut: Untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola - pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
     Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut: Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Pada akhirnya uraian mengenai tujuan psikoterapi ini ditutup dengan uraian mengenai terapi realitas dari kedua tokoh diatas. Ivey, et al (1987) merumuskan psikoterapi dengan pendekatan terapi realitas sebagai: Untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain.

Unsur - Unsur Psikoterapi

     Adapun unsur-unsur psikoterapi adalah sebagai berikut :
1. Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu,
2. Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
3. Interaksi berlangsung dalam jangka waktu lama.
4. Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien, yang telah disetujui oleh kedua pihak.


Sumber :

Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia