Upaya untuk membedakan konseling dengan psikoterapi telah lama dilakukan berbagai pihak, namun tidak pernah berhasil dengan memuaskan. Karena itu bagi sekelompok ahli, upaya membedakan konseling dan psikoterapi dirasakan tidak perlu dilakukan lagi dan sebaiknya keduanya diterima sebagai kegiatan yang sinonim.
Blocher (1966) mengemukakan ciri-cirinya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi, sebagai berikut :
1. Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan dan secara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya.
2. Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.
3. Klien adalah klien dan bukan pasien. Konselor bukanlah tokoh otoriter namun adalah seorang "pendidik" dan "mitra" dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan.
4. Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai-nilai, perasaan dan normanya sendiri; meskipun konselor tidak perlu memaksakan hal ini kepada klien, namun ia juga tidak menutupinya.
5. Konselor memusatkan pada perubahan perilaku, tidak hanya menumbuhkan pengertian.
Perbedaan mengenai metode ini kemudian diringkas oleh Stefflre & Grant (1972) sebagai berikut :
"Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuaannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens, lebih menekankan pada situasi yang rill, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya."
Mengenai perbedaan konseling dan psikoterapi , dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977) dan Thompson & Rudolph (1983) dibawah ini :
1. Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti : "educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time, dan short-term"
2. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh : "supportive (dalam keadaan kritis), reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long-term".
Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson & Rudolph (1983), sebagai berikut :
1. Konseling untuk : Klien, Gangguan yang kurang serius, Masalah; jabatan, pendidikan, Berhubungan dengan pencegahan, Lingkungan pendidikan dan nonmedis, Berhubungan dengan kesadaran, Metode pendidikan.
2. Psikoterapi untuk : Pasien, Gangguan yang serius, Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan, Berhubungan dengan penyembuhan, Lingkungan medis, Berhubungan dengan ketidaksadaran, Metode penyembuhan.
BENTUK-BENTUK UTAMA TERAPI
Beberapa bentuk utama dalam terapi, adalah sebagai berikut :
1. Terapi Rekonstruktif
Merupakan terapi yang menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Tujuannya adalah untuk merubah kepribadian sehingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru. Cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain yang berorientasi kepada psikoanalisa dengan cara : asosiasi bebas, analisis mimpi, hipoanalisa/sintesa, narkoterapi, terapi main, terapi kelompok analitik.
2. Terapi Supportif
Adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Psikoterapi ini juga berfungsi untuk mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan fungsi pengontrolan diri. Terakhir yang tergolong dalam psikoterapi ini adalah penyuluhan (membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih baik agar ia dapat mengatasi permasalahannya dan dapat menyesuaikan diri).
3. Terapi Redukatif
Adalah pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasikan tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada. Cara-cara psikoterapi redukatif antara lain adalah terapi hubungan antar manusia, terapi sikap, terapi wawancara, analisa dan sintesa yang distributif, konseling terapeutik, terapi kelompok yang redukatik dan terapi somatik.
Sumber :
Gunarsa, Singgih D. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
http://id.scribd.com/doc/27950595/psikoterapi-suportif
Mappiare, Andi. (1992). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo