Senin, 16 November 2015

CBIS (Computer Based Information System)

a. Tujuan Sistem
     Tujuan sistem merupakan tujuan dari sistem yang dibuat tersebut, tujuan sistem dapat berupa tujuan organisasi, kebutuhan organisasi, permasalahan yang ada dalam suatu organisasi maupun urutan prosedur untuk mencapai tujuan organisasi.
b.Input
     Input merupakan elemen dari sistem yang bertugas untuk menerima seluruh masukan data, dimana masukan tersebut dapat berupa jenis data, frekuensi pemasukan data dan sebagainya.
c. Proses
     Proses merupakan elemen dari sistem yang bertugas untuk mengolah atau memproses seluruh masukan data menjadi suatu informasi yang lebih berguna. Misalnya sistem produksi akan mengolah bahan baku yang berupa bahan mentah menjadi bahan jadi yang siap untuk digunakan.
d. Output
     Output merupakan hasil dari input yang telah diproses oleh bagian pengolah dan merupakan tujuan akhir sistem. Output ini bisa berupa laporan grafik, diagram batang dan sebagainya.
e. Umpan Balik
     Umpan Balik merupakan elemen dalam sistem yang bertugas mengevaluasi bagian dari ouput yang dikeluarkan, dimana elemen ini sangat penting demi kemajuan sebuah sistem. Umpan balik ini dapat berupa perbaikan sistem, pemeliharaan sistem, dan sebagainya.

  CBIS  merupakan singkatan dari Computer Based Information System atau Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan suatu sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan.
     Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya. Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya.Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer. 
     Sistem berbasis komputer adalah sistem yang komponen-komponennya atau subsistem-subsistemnya terdiri dari :
– Orang
– Perangkat Keras (Hardware) komputer
– Perangkat Lunak (Software) komputer
– Basis data
– Prosedur
– Dokumentasi

      Fokus utama sistem informasi berbasis komputer adalah untuk aplikasi otomatisasi perkantoran (Office Aotumation /OA). 

     Evolusi CBIS
SIA (Sistem Informasi Akutansi)  
     SIA adalah aplikasi akuntansi yang digunakan oleh perusahaan untuk mengolah datanya. Peran sebuah SIA dalam sebuah perusahaan bersifat WAJIB karena untuk mengumpulkan berbagai data dan menyimpannya diperlukan suatu sistem. SIA juga berfungsi untuk menghasilkan berbagai laporan akuntansi perusahaan dalam dan juga dapat dijadikan sebagai database untuk memecahkan masalah, seperti saat harus mengerjakan laporan Audit. EDP (Electronic Data Processing) juga merupakan salah kegunaan dari SIA, berkat kemampuannya untuk mengolah berbagai data yang sudah ada dalam database menjadi data lain dalam bentuk laporan.
Peran SIA Dalam CBIS
  • SIA menghasilkan beberapa output informasi dalam bentuk laporan akuntansi standar.
  • SIA menyediakan database yang lengkap untuk digunakan dalam pemecahan masalah.

SIM (Sistem Informasi Manajemen)
     
     SIM adalah aplikasi yang digunakan oleh orang dengan level manajemen atau mempunyai beberapa unit lain dibawahnya, seperti perusahaan besar.Informasi yang disediakan oleh SIM berupa sistem suatu perusahaan, baik yang sudah digunakan atau akan digunakan dan menampilkannya dalam berbagai bentuk laporan. Bentuk laporan yang dapat SIM hasilkan berupa laporan periodik atau simulasi matematika, hasil ini dapat digunakan oleh seorang manajer saat dia akan membuat keputusan untuk memecahkan suatu masalah.  SIM dan SIA juga saling berhubungan, SIM menggunakan data yang disediakan oleh SIA untuk melakukan prosesnya.
      Pada tahun 1964, generasi terbaru peralatan komputer diperkenalkan dan mendapatkan pengaruh dalam hal penggunaan dari computer yang digunakan. Komputer terbaru ini merupakan yang pertama menggunakan silicon chip circuit dan menawarkan keuntungan untuk kecepatan proses lebih besar per dollar. Perusahaan bisa berpindah ke komputer dengan kapasitas penyimpanan lebih besar dan dengan perlengkapan komunikasi data untuk harga yang relatif sama. Konsep ini menggunakan komputer sebagai management information system atau MIS, dipromosikan oleh perusahaan komputer untuk membenarkan peralatan tambahan.
 
Sistem Pembantu Keputusan (Decision Support System)

      SPK merupakan pengembangan dari SIM, karena kemampuan SPK untuk menghasilkan dan memprediksi suatu data yang didapat dari SIA jauh lebih kompleks daripada SIM. Pada dasarnya, SPK dapat memprediksi data yang didapat dimasa depan, jadi seorang manajer dapat menggunakan SPK sebagai suatu acuan dalam menyelesaikan masalah. Walaupun kemampuan SIM juga dapat digunakan seperti SPK, hasil yang diberikan oleh SPK jauh lebih akurat karena menggunakan berbagai model analisis untuk menentukan pilihan.
     Dalam upaya memecahkan masalah seorang problem solver akan banyak membuat keputusan. Keputusan harus diambil untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif atau untuk memanfaatkan peluang. Keputusan terbagi menjadi :
–  Keputusan terprogram, bersifat berulang dan rutin.
–  Keputusan tak terprogram, bersifat baru dan tidak terstruktur, tidak ada metode pasti untuk menanganinya
    karena belum pernah terjadi sebelumnya.
Manajer melakukan empat tahap pengambilan keputusan, yaitu :
–  Kegiatan Intelejen, mengamati lingkungan untukmencari kondisi yang perlu diperbaiki.
–  Kegiatan Merancang, menemukan, mengembangkan, dan menganalisis berbagai alternatif tindakan yang
    mungkin.
–  Kegiatan Memilih, memilih salah satu rangkaian tindakan diantara alternatif.
–  Kegiatan Review, menilai pilihan-pilihan yang lalu.

Otomatisasi Kantor
      Ada gerakan untuk menerapkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk permasalahan bisnis. Ide dasarnya adalah AI bisa melakukan pemrosesan logika seperti manusia. Subkelas dari AI yang mendapatkan perhatian khusus adalah expert system karena merupakan fungsi yang sesuai. Sebagai contoh, expert system dapat menyediakan bantuan kepada manager seperti halnya dari konsultan manajemen.
 
     
 
SUMBER :

Ukar, K. (2006). Student Guide Series Pengenalan Komputer. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Wahyono, T. (2003). Computer based information system (CBIS). Kuliah Berseri IlmuKomputer.com, 1,  1-5.
Wulandari, D.I., Fajrina, N.A., Abdianti, Y. (2015). Computer based information system (CBIS). Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, 1, 1-5.
Sutanta, Edhy. (2005). Dukungan sistem informasi manajemen (SIM) dalam kegiatan manajemen. Jurnal manajerial: Amikom Yogyakarta, (1) 1.
Kristanto, Andi. (2003). Perancangan sistem informasi dan aplikasinya. Yogyakarta: Gava Media.

Selasa, 13 Oktober 2015

#Sistem Informasi Psikologi

Definisi Sistem :

a. Menurut Taufiq (dalam Murphy & Udjulawa, 2013), sistem bisa ditafsirkan sebagai kesatuan      
    elemen yang memiliki keterkaitan. Beberapa elemen dapat digabung menjadi suatu unit, kelompok
    atau komponen sistem dengan fungsi tertentu. Komponen sistem ini bisa dilihat, diangap, atau
    memang dirancang untuk berfungsi mandiri sebagai modul sistem.
b. Pengertian sistem menurut Mulyadi (dalam Machmud, 2013) adalah sebagai berikut : "sekelompok
    dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan (subsistem-subsistem yang bersatu
    untuk mencapai tujuan yang sama)"
c. Winarno (dalam Machmud, 2013) mengungkapkan bahwa pengertian sistem adalah "sekumpulan
    komponen yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

# Kesimpulan :

Sistem adalah sebuah komponen atau unsur yang dirancang, dirangkai dan  saling berkaitan satu sama lain dengan fungsi dan tujuan tertentu.


Definisi Informasi :

a. Pengertian Informasi menurut Jogiyanto (dalam, Machmud 2013) adalah sebagai data yang diolah
    menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
b. Informasi menurut Kusrini (dalam Machmud, 2013) adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah
    bentuk yang berguna bagi pengguna yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau
    mendukung sumber informasi.
c. Menurut McLeod (dalam Machmud 2013) informasi adalah sebagai berikut : "Data yang telah
    diproses, atau data yang memiliki arti".

#Kesimpulan :

Informasi adalah sebuah data yang sudah diolah dan melewati beberapa proses untuk digunakan.


Definisi Psikologi :

a. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno dari kata : a. Psyche, yang
    berarti Jiwaa dan b. Logos (Ology), yang berarti Ilmu Pengetahuan. Jadi secara etimologis,
    psikologi berarti ilmu jiwa yaitu ilmu yang mempelajari tentang jiwa baik mengenai macam-
    macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
b. Ada beberapa ahli yang kurang sependapat bahwa pengertian psikologi itu benar-benar sama
    dengan ilmu jiwa. Walaupun ditinjau dari kata kedua istilah itu sama perbedaannya terletak pada :
    1). Ilmu jiwa : (a), merupakan istilah Bahasa Indonesia sehari-hari dan dkenal setiap orang. (b).
         meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, khayalan dan spekulasi mengenai jiwa. (c),
         istilah ilmu jiwa menunjukkan kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah.
    2). Meliputi ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-
         metode ilmiah yang memenuhi syarat-syaratnya seperti dimufakati sarjana-sarjana psikologi
         pada zaman sekarang ini.
   3). Istilah psikologi menunjukkan ilmu jiwa yang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modern.
c. Wilhelm Wundt (dalam Walgito, 2002) psikologi merupakan ilmu pengetahuan tentang kesadaran
    manusia. Wundt percaya bahwa gejala-gejala jiwa tersusun dari beberapa elemen. Sehingga dalam
    menganalisa elemen-elemen kejiwaan para ahli psikolog mempelajari melalui proses elementer
    dari kesadaran manusia. Dari sinilah data diketahui bahwa obyek utama dalam psikologi menurut
    Wilhelm Wundt adalah kesadaran.

#Kesimpulan :

Psikologi adalah sebuah ilmu tentang kejiwaan yang menganalisa khususnya manusia.


Sumber : 

Murphy, B. I., (2013). Fasilitas sistem informasi akademik berbasis web untuk SMA Negeri oleh PT. XL Axiata, Tbk Palembang. Palembang: STMIK GI MDP (Jurnal)
Machmud, Rizan., (2013). Peranan penerapan sistem informasi manajemen terhadap efektivitas kerja pagawai lembaga pemasyarakatan narkotika (LAPASTIKA) Bollangi Kabupaten Gowa. Jurnal Capacity STIE AMPKOP Makassar. Vol. 9, No. 3 (Jurnal)
Chainur Arrasjid, (2002). Pengantar Psikologi Kriminal. Medan : Yani Corporation
Djoko Prakoso, (2002). Peranan Psikologi Dalam Pemeriksaan Tersangka Pada Tahapan Penyidikan, Jakarta : Ghalia Indonesia
Dr. Bimo Walgito, (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offse

Sabtu, 06 Juni 2015

PSIKOTERAPI IV

TERAPI BERMAIN

     Terapi bermain dapat dilakukan didalam ataupun diluar ruangan. Terapi yang dilakukan didaalam ruangan sebaiknya dipersiapkan dengan baik terutama dengan alat-alat permainan yang akan digunakan. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa terapi yang menggunakan alat-alat permainan dalam situasi yang sudah dipersiapkan untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya baik senang, sedih, marah, dendam, tertekan, atau emosi yang lain.


A. Teknik Terapi Bermain

1. Permainan Boneka
     Boneka memberikan suatu cara yang tidak mengancam untuk anak-anak bermain di luar pikiran dan perasaan mereka. Selama bermain dengan boneka anak-anak melakukan beberapa hal seperti berikut ini :
a. Mengidentifikasikan diri dengan boneka
b. Memproyeksikan perasaan sendiri dalam figur permainan
c. Memindahkan konfliknya dalam figur permainan

     Dalam permainan boneka terapis mendapatkan informasi tentang :
a. Pandangan pikiran anak
b. Perasaan anak
c. Tingkah laku anak

     Boneka dalam terapi bermain meliputi :
a. Boneka bayi yang berukuran seperti bayi
b. Boneka yang secara anatomi benar, baik laki-laki maupun perempuan
c. Keluarga boneka
d. Binatang dari kain
e. Boneka manusia dari berbagai ras dan sukubangsa (Jawa, Batak, Papua, America, Africa, dll)
f. Perlengkapan boneka seperti rumah, baju, tempat tidur, dll

2. Permainan Boneka Wayang
     Gerakan wayang atau boneka memungkinkan anak menceritakan ceritera-ceritera yang kaya dalam bentuk simbol dan untuk menciptakan fantasi-fantasi mereka. Manfaat permainan boneka wayang :
a. Melalui gerakan bonerka, anak dapat menghadapi pikiran dan perasaan yang sulit untuk mereka akui sebagai diri sendiri.
b. Dengan menggunakan boneka, anak dapat menciptakan orang lain dan berinteraksi serta mengungkapkan pikiran dan perasaannya sekaligus kemarahannya yang dalam kehiduoan nyata tidak bisa dilakukannya.
c. Anak-anak juga dapat menciptakan tokoh yang tidak bisa diungkapkannya sendiri. Permainan dengan boneka dapat merupakan kegiatan kelompok yang menarik dan dapat digunakan dengan kelompok anak-anak yang lebih besar atau kecil, terutama dalam lingkungan sekolah. Dengan bermain boneka dalam kelompok, membuat anak saling menghargai sudut pandang orang lain, dapat memecahkan masalah dan keterampilan sosial.

3. Bercerita
     Secara psikologis membaca atau bercerita merupakan salah satu bentuk bermain yang paling sehat. Kebanyakan anak kecil lebih menyukai cerita tentang orang dan hewan yang dikenalnya. Selain itu karena anak kecil cenderung egosentrik mereka menyukai ceritera yang berpusat pada dirinya. Mula-mula anak-anak suka cerita imajinatif yang khayal kemudian seiring dengan berkembangnya kecerdasan dan pengalam sekolah anak yang lebih besar menjadi realistik, dan minatnya pun beralih ke cerita petualangan, kekerasan, kemewahan, dan cinta serta pendidikan. Menceritakan cerita memberikan cara yang menyenangkan untuk mengembangkan rapport dan belajar tentang anak. Ketika anak menceritakan cerita mereka, mereka mengkomunikasikan informasi penting tentang diri mereka sendiri dan keluarga mereka sambil belajar mengekspresikan dan menguasai perasaan mereka. Dengan mendengarkan cerita anak, terapis dapat memahami lebih baik pertahanan diri anak, konflik anak, dan dinamika keluarga anak. Dalam menganalisis cerita anak, terapis harus mencari tema yang diulang yang dapat memberikan kunci penting tentang perasaan-perasaan dan perjuangan anak. Terapis harus sangat akrab dan terampil dalam menginterpretasikan komunikasi simbolik secara wajar. Semua ini tergantung pada keterampilan dan pertimbangan terapis.

4. Bermain
     Bermain selama masa kanak-kanak mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan permainan remaja dan orang dewasa. Permainan anak kecil bersifat spontan dan informal. Secara bertahap bermain menjadi semakin formal. Dengan berkembangnya kemampuan berpikir anak, anak mulai mengembangkan permainan dengan aturan. Permainan individu dan kelompok membantu anak belajar bagaimana membagi kelompok dan bermain dengan aturan. Permainan mengajar anak tentang mendisiplin diri, serta belajar untuk menang dan kalah. Permainan yang diterapkan untuk terapi bermain dapat dimainkan sendiri maupun berkelompok. 

5. Bermain Pasir
     Anak-anak suka bermain pasir. Dengan adanya terapi bermain menggunakan pasir anak-anak diberikan kegembiraan, rileks dan merupakan medium terapeutik. Selama di dalam kamar bermain anak bebas bermain dalam pasir dan banyak menggunakan miniatur yang tersedia seperti yang diinginkan. Selama proses bermain pasir, anak memutuskan apa yang akan dibuat, figur apa yang akan digunakan, dan bagaimana mengunakannya. Anak bebas membuat adegan, membuat pemandangan atau apa saja sebagai cara melukiskan pengalaman di mana mereka tidak dapat menceritakan dengan kata-kata. Dengan mengobservasi anak saat bermain pasir, terapis mendapat informasi tentang pikiran, perasaan dan tingkah laku anak. Permainan pasir juga sering menyangkut simbol-simbol yang mempunyai arti khusus.

B. Konsep Terapi Bermain

     Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai pola atau aturan yang tidak mengikat.

C. Unsur-unsur dalam Terapi bermain 

1. Melepas ketegangan-ketegangan yang menghimpit hatinya.
2. Melatih keterampilan melalui panca inderanya atau sensormotorik.
3. Dilakukan dengan gembira, bahagia dengan fantasinya dapat berkembang.
4. Kebebasan memilih dan menentukan alat bermainnya.
5. Membantu melancarkan dan mengembangkan fungsi faal tubuhnya (fisiologi), misal : pernafasan, peredaran darah dan pencernaan makanan (psikomotorik).
6. Mampu mengembangkan kemampuan diri anak semaksimal mungkin sesuai dengan prestasi dirinya.

Sumber :
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=12&cad=rja&uact=8&ved=0CCQQFjABOAo&url=http%3A%2F%2Fwww.unaki.ac.id%2Fejournal%2Findex.php%2Fjurnal-informatika%2Farticle%2Fdownload%2F76%2F75&ei=BFBsVYWxIsyRuATXk4OYDg&usg=AFQjCNGmNLlvg49Swxn_l08jNM6s-g96QQ&bvm=bv.94455598,d.c2E

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&sqi=2&ved=0CBsQFjAA&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2FLATAR%2520BELAKANG%2520TERAPI%2520BERMAIN.ppt&ei=WbRzVbufDo2TuASZoYagDg&usg=AFQjCNGBXN73jx7ioR-28o1z75qgc3VT7A&sig2=RN2x8_IIH3iG2Ul7GRgbrQ&bvm=bv.95039771,d.c2E




Kamis, 30 April 2015

PSIKOTERAPI III (BAGIAN III)

TERAPI PERSON CENTERED

     Terapi ini adalah terapi yang berpusat pada pribadi/pasien atau terapi nondirektif. Nondirektif adalah pasien sendiri yang memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapi client centered ini membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sebenarnya dengan menciptakan penerimaan diri yang dapat diwujudkan dalam hubungan terapeutik.

a. Unsur Terapi
Adapun unsur-unsur terapi adalah sebagai berikut : 
- Terapi person centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan lebih sempurna.
- Menekankan medan fenomenal (Fenomenal field) merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya, baik yang     disadari maupun yang tidak disadari. Klien tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalan sebagaimana adanya.
- Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkan bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstruktif  dimana dampak psikoterapeutik terjadi karena hubungan terapis dan klien.
- Terapi ini tidak dilakukan dengan suatu sekumpulan teknik yang khusus. Tetapi pendekatan ini berfokus pada person sehingga terapis dan klien memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbuhan.

b. Teknik Terapi
     Karena pendekatan person centered berkembang, maka terjadi peralihan dari penekanan kepribadian, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap terapis, serta pada hubungan terapeutik.
- Hubungan antara terapis dan pasien sekarang menjadi hal yang sangat penting dalam teknik. Terapis harus membawa ke dalam hubungan tersebut sifat-sifat khas yang berikut.
- Menerima. Terapis menerima pasien dengan respek tanpa menilai atau mengadilinya entah secara positif atau negatif.
- Keselarasan. Tidak ada kontradiksi antara apa yang dikatakan terapis dan yang dilakukan terapis.
- Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat khas, Terapis mampu mengkomunikasikan penerimaan, keselarasan dan pemahaman kepada pasien sedemikian rupa sehingga membuat perasaan-perasaan terapis jelas kepada pasien.
- Hubungan yang membawa akibat. Suatu hubungan yang bersifat mendukung, yang aman dan bebas dari ancaman akan muncul dari teknik-teknik diatas.

c. Konsep Terapi
     Adapun konsep-konsep terapi adalah sebagai berikut :
- Konsep diri, mengenai konsepsi seseorang mengenai dirinya.
- Diri ideal, mengenai konsep diri yang ingin dimiliki seseorang.
- Ketidakselarasan, antara diri dan pengalan yaitu suatu celah yang ada antar konsep diri seseorang.
- Ketidakmampuan menyelesaikan diri secara psikologis.
- Keselarasan antaa diri dan pengalaman (konsep seseorang tentang diri sendiri sesuai dengan apa yang dialaminya).
- Kebutuhan akan harga diri, kebutuhan untuk menghargai diri sendiri.

Sumber :
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Jakarta: Kanisius
Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Eresku

PSIKOTERAPI III (BAGIAN II)

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

     Teori konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial, mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi terapi.

a.  Unsur Terapi
      Terapis dalam terapi humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana teknik yang digunakannya itu selalu mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama. Proses klien mencapai kesembuhan dalam terapi humanistik-eksistensial. Dalam terapi eksistensial, klien mampu mengalami rasa subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik, karena dia harus memutuskan ketakutan-ketakutannya, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasannya. Dalam terapi ini klien terlibat dalam pembukaan pintu menuju diri sendiri, dengan membuka pintu yang tertutup, klien mulai melonggarkan belenggu deterministik yang telah menyebabkan dia terpenjara secara psikologis. Lambat laun klien menjadi sadar, apa dia tadinya dan siapa dia yang sekarang, serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang diinginkannya. Melalui proses terapi ini klien bisa mengeksplorasi alternatif-alternatif guna membuat pandangan-pandangannya menjadi real.

b. Teknik Terapi
      Teori eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya. Metode-metode yang berasal dari teori Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam teori eksistensial-humanistik. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menempati kedudukan sentral dalam konseling adalah : Seberapa besar saya menyadari siapa saya ini ? Bisa menjadi apa saya ini ? Bagaimana saya bisa memilih menciptakan kembali identitas diri saya yang sekarang ? Seberapa besar kesanggupan saya untuk menerima kebebasan memilih jalan hidup saya sendiri ? Bagaimana saya mengatasi kecemasan yang ditimbulkan oleh kesadaran atas pilihan-pilihan ? Sejauh mana saya hidup dari dalam pusat diri saya sendiri ? Apa yang  saya lakukan untuk menemukan makna hidup ini ?. Pada pembahasan di bawah ini diungkap dalil-dalil yang mendasari praktek konseling eksistensial-humanistik. Dalil-dalil ini, yang dikembangkan dari suatu survei atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial, merepresentasikan sejumlah tema yang penting yang merinci praktek-praktek konseling.
1. Tema-tema dan Dalil-dalil Utama Eksistensial dan Penerapan-penerapan Pada Praktek Konseling
- Dalil 1 : Kesadaran Diri
     Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya mampu melampau situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri itu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Manusia bisa tampil di luar diri dan berefleksi atas keberadaannya. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi atau sebagaimana dinyatakan oleh Kierkegaard, "Semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri seseorang." Tanggung jawab berlandaskan kesanggupan untuk sadar. Dengan kesadaran, seseorang bisa menjadi sadar atas tanggung jawabnya untuk memilih. Kesadaran bisa dikonseptualkan dengan cara sebagai berikut : Umpamakan Anda berjalan di lorong yang di kedua sisinya terdapat banyak pintu, bayangkan bahwa Anda bisa membuka beberapa pintu, baik membuka sedikit ataupun membuka lebar-lebar. Barangkali, jika Anda membuka satu pintu, Anda tidak akan menyukai apa yang Anda temukan di dalamnya menakutkan atau menjijikan. Di lain pihak, Anda bisa menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh keindahan. Anda mungkin berdebat dengan diri sendiri, apakah akan membiarkan pintu itu tertutup atau terbuka.
     Apabila seorang konselor dihadapkan pada konseli yang kesadaran dirinya kurang maka konselor harus menunjukkan kepada konseli bahwa harus ada pengorbanan untuk meningkatkan kesadaran diri. Dengan menjadi lebih sadar, konseli akan lebih sulit untuk "kembali ke rumah lagi", menjadi orang yang seperti dulu lagi. Dalam pengertian yang sesungguhnya, peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi dan atas tujuan-tujuan pribadi adalah tujuan segenap konseling.

- Dalil 2 : Kebebasan dan Tanggung Jawab
      Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memililih antara altematif-altematif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri. Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan, dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Jika kesadaran dan kebebasan dihapus dari manusia, maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan eksistensial adalah bahwa individu, dengan putusan-putusannya membentuk nasib dan mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya, dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempunya. Tugas konselor adalah mendorong konseli untuk belajar menanggung resiko terhadap akibat penggunaan kebebasannya. Yang jangan dilakukan adalah melumpuhkan konseli dan membuatnya bergantung secara neurotik pada konselor. Konselor perlu mengajari konseli bahwa dia bisa mulai membuat pilihan meskipun konseli boleh jadi telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melarikan diri dari kebebasan memilih.

- Dalil 3 : Keterpusatan dan Kebutuhan Akan Orang Lain
     Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan tetapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam.  Kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain dan dengan alam menyebabkan ia kesepian dan mengalami keterasingan. Kita masing-masing memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan suatu diri, yakni menemukan identitas pribadi diri kita. Akan tetapi, penemuan siapa kita sesungguhnya bukanlah suatu proses yang otomatis; ia membutuhkan keberanian. Secara paradoksal kita juga memiliki kebutuhan yang kuat untuk keluar dari keberadaan kita. Kita membutuhkan hubungan dengan keberadaan-keberadaan yang lain. Kita harus memberikan diri kita kepada orang lain dan terlibat dengan mereka. Usaha menemukan inti dan belajar bagaimana hidup dari dalam memerlukan keberanian. Kita berjuang untuk menemukan, untuk menciptakan, dan untuk memelihara inti dari ada kita. Salah satu ketakutan terbesar dari pada konseli adalah bahwa mereka akan tidak menemukan diri mereka. Mereka hanya menganggap bahwa mereka bukan siapa-siapa. Para konselor eksistensial bisa memulai dengan meminta kepada para konselinya untuk mengakui perasaannya sendiri. Sekali konseli menunjukkan keberanian untuk mengakui  ketakutannya, mengungkapkan ketakutannya, mengungkapkan ketakutan dengan kata-kata dan membaginya, maka ketakutan itu tidak akan begitu menyelubunginya lagi. Untuk mulai bekerja bagi konselor adalah mengajak konseli untuk menerima cara-cara dia hidup di luar dirinya sendiri dan mengeksplorasi cara-cara untuk keluar dari pusatnya sendiri. Kebutuhan akan diri berkaitan dengan kebutuhan menjalani hubungan yang bermakna dengan oran lain. Jika kita hidup dalam isolasi dan tidak memiliki hubungan yang nyata dengan orang lain maka kita mengalami perasaan terabaikan, terasingkan, dan terkucilkan.

- Dalil 4 : Pencarian Makna
     Salah satu karakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangnnya untuk merasakan arti dan maksud hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas pribadi. Biasanya konflik-konflik yang mendasari sehingga membawa orang-orang ke dallam konseling adalah dilema-dilema yang berkisar pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial : Mengapa saya berada ? Apa yang saya inginkan dari hidup ? Apa maksud dan makna hidup saya ? Konseling eksistensial bisa menyediakan kerangka konseptual untuk membantu konseli dalam usahanya mencari makna hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan oleh konselor kepada konseli adalah : "Apakah anda menyukai arah hidup Anda ? Apakah Anda puas atas apa Anda sekarang dan akan menjadi apa Anda nanti ? Apakah Anda aktif melakukan sesuatu yang akan mendekatkan Anda pada ideal-diri Anda ? Apakah Anda mengetahui apa yang Anda inginkan ? Jika Anda bingung bingung mengenai siapa Anda dan apa yang Anda inginkan, apa yang Anda lakukan untuk memperoleh kejelasan ? Konselor harus menaruh kepercayaan terhadap kesanggupan konseli dalam menemukan sistem nilai yang bersumber pada dirinya sendiri dan yang memungkinkan hidupnya bermakna. Konseli tidak diragukan lagi akan bingung dan mengalami kecemasan sebagai akibat tidak adanya nilai-nilai yang jelas. Kepercayaan konselor terhadap konseli adalah variabel yang terpenting dalam mengajari konseli agar mempercayai kesanggupannya sendiri dalam menemukan sumber nilai-nilai baru dari dalam dirinya.

- Dalil 5 : Kecemasan Sebagai Syarat Hidup
     Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasi yang kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memilih. Kebanyakan orang mencari bantuan profesional karena mereka mengalami kecemasan atau depresi. Banyak konselli yang memasuki kantor konselor disertai harapan bahwa konselor akan mencabut penderitaan mereka atau setidaknya akan memberikan formula tertentu untuk mengurangi kecemasan mereka. Konselor yang berorientasi eksistensial, bagaimanapun, bekerja tidak semata-mata untuk menghilangkan gejala-gejala atau mengurangi kecemasan.

c. Konsep Terapi 
     Pendekatan eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan eksistensial-humanistik dalam konseling menggunakan sistem teknik-teknik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk landasn bagi praktek konseling, yaitu :
- Kesadaran Diri
     Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadarn untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebeas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para eksistensialis menekankan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

- Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Kecemasan
    Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkann atas keterbatasannya da atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa eksetensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

- Penciptaan Makna
     Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia  lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tahap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menjadi "sakit".

Sumber :
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama

Rabu, 29 April 2015

PSIKOTERAPI III (BAGIAN I)

TERAPI PSIKOANALISA

     Psikoanalisa bagi Freud merupakan sebuah metode yang menjanjikan hasil lebih sistematis dan lebih seksama dibanding metode penyelidikan dari seorang otobiografer yang paling jujur sekalipun. 3 atau 4 tahun kemudian setelah Freud menemukan teori psikoanalisis, selama dia bekerja dengan "buku mimpi" nya, berbagai penemuan baru ikut meramaikan hari-harinya. 

a. Unsur Terapi
     Unsur-unsur dalam terapi psikoanalisa ada tiga, yaitu :
- Id  
     Yaitu tidak disadari, kacau, tidak berhubungan dengan realitas, dan mengikuti prinsip kepuasan.

- Ego
    Adalah bagian eksekutif dari kepribadian, berhubungan dengan dunia nyata, dan mengikuti prinsip realitas.

- Super Ego
    Mengikuti prinsip moral dan idealistis yang mulai terbentuk setelah masalah oedipus complex teselesaikan. 

b. Teknik Terapi 
     Pada bagian ini, kita akan melihat teknik-teknik terapeutik awal Freud dan teknik yang berkembang kemudian berkembang kemudian serta pandangannya tentang mimpi dan keliru ucap yang tidak disadari.

- Teknik Terapeutik Awal Freud
     Sebelum menggunakan teknik psikoterapi asosiasi bebas yang agak pasif, Freud bergantung pada pendekatan yang jauh lebih aktif. Dalam Kajian tentang Histeria, Freud menggambarkan teknik yang ia gunakan membuka kenangan masa kanak-kanak yang mengalami represi. prosedur yang sangat sugestif seperti ini memang memberikan hasil yang Freud butuhkan, yaitu pengakuan akan godaan masa kanak-kanak. Sembari menggunakan tafsir mimpi dan hipnosis, Freud menyampaikan pada pasiennya bahwa gambaran pengalam seksual masa kanak-kanak akan muncul. Seiring dengan berjalannya waktu, Freud kemudian menyadari bahwa taktiknya yang sangat sugestif dan bahkan penuh paksaan seperti ini memunculkan ingatan tentang godaan pada para pasiennya dan ia tak punya banyak bukti untuk memastikan apakah ingatan tersebut benar-benar terjadi. Freud semakin menyakini bahwa gejala neurotis terkait dengan fantasi masa kanak-kanak ketimbang kenyataan material dan ia secara bertahap mengadopsi teknik psikoterapeutik yang lebih pasif.

- Teknik Terapeutik Freud yang Berkembang Kemudian
     Tujuan utama dari terapi psikoanalisis Freud yang berkembang kemudian adalah mengungkapkan ingatan yang direpresi melalui asosiasi bebas dan analisis mimpi. Melalui asosiasi bebas (free association), pasien diminta untuk mengutarakan setiap pikiran yang muncul dalam benaknya, tanpa memandang apakah pikiran tersebut ada atau tidak ada hubungannya ataupun menimbulkan rasa jijik. Tujuan asosiasi bebas adalah untuk sampai ke alam tidak sadar dengan cara mulai dari ide yang disadari saat ini, menelusurinya melalui serangkaian asosiasi, dan mengikuti kemana ide ini pergi. Proses ini tidak mudah dan sejumlah pasien tak bisa menjalani proses tersebut. Oleh karena itu, analisis mimpi menjadi teknik terapeutik yang paling disukai Freud. 

- Analisis Mimpi
     Asumsi dasar dari analisis mimipi Freud adalah hampir semua mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan (wish fulfillments). Sejumlah keinginan tampak jelas dan diungkapkan melalui muatan manifes, seperti pada orang yang tidur dalam keadaan lapar dan bermimpi memakan makanan enak yang banyak. Asumsi bahwa mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan, tidak muncul pada pasien-pasien yang mengalami pengalaman traumatis. Pada orang-orang seperti ini, mimpi muncul mengikuti prinsip kompulsi repetisi ketimbang memenuhi keinginan. Mimpi-mimpi seperti ini lazim didapati pada orang-orang yang mengalami kelainan stress pasca trauma (posttraumatic stress disorder) yang berulang kali memimpikan pengalaman yang menakutkan atau traumatis. Freud meyakini bahwa mimpi dibentuk di alam tidak sadar, tetapi mencoba untuk ke alam sadar. Agar bisa disadari, mimpi harus bisa menyelinap melewati sensor pertama dan akhir. Bahkan, saat dalam keadaan tidur pun para penjaga ini tetap waspada sehingga materi-materi psikis tidak sadar perlu bersembunyi dalam selubung penyamaran. Selubung ini bisa bekerja dengan dua dasar-kondensasi dan pengalihan. Dalam menafsirkan mimpi, Freud biasanya mengikuti satu dari dua metode. Metode pertama adalah meminta pasien untuk mengaitkan mimpi dengan semua hal yang berhubungan dengan mimpi tersebut, tanpa memperhatikan apakah hal-hal tersebut benar-benar terkait atau keterkaitannya tidak logis. Apabila orang yang bermimpi tidak mampu mengaitkan hal-hal tersebut, maka Freud menggunakan metode kedua-simbol simbol mimpi-untuk mengungkapkan elemen-elemen tidak sadar di balik muatan manifes. Tujuan dari kedua metode tersebut (asosiasi dan simbol) adalah untuk menelusuri bagaimana mimpi itu terbentuk sampai akhirnya menjadi muatan laten.

- Proses Mental Tidak Sadar
     Kebanyakan ilmuwan dan filsuf mengakui dua bentuk kesadaran yang berbeda.  Pertama adalah kondisi tidak sadar atau tidak terjaga dan kedua adalah kondisi sadar. Kondisi tidak sadar disebut sebagai "kesadaran inti" (core consciousness) sementara kondisi sadar disebut sebagai "kesadaran yang diperluas" (extended consciousness). Batang otak dan sistem yang mengaktivasinya secara khusus merupakan bagian dari otak yang secara langsung terkait dengan kesadaran inti atau ketidaksadaran dalam arti kondisi tak terjaga. 

- Kesenangan dan Id : Halangan dan Ego
     Pada tahun 1923, ketika Freud mengubah pandangannya tentang bagaimana pikiran bekerja dan mengusulkan pandangan struktural tentang id, ego, dan superego di mana ego menjadi struktur yang sebetulnya tak disadari, tetapi memiliki fungsi utama menghalang-halangi dorongan. Apabila bagian otak yang berfungsi menghalangi dorongan dan impuls ini rusak, maka kita bisa melihat adanya peningkatan pada dorongan-dorongan memuaskan kesenangan yang berbasis pada Id. Inilah yang terjadi pada saat sistem limbik frontal rusak. 

- Represi, Halangan, dan Mekanisme Pertahanan
     Salah satu komponen utama dari teori Freud adalah mekanisme pertahanan, khususnya represi. Alam tidak sadar secara aktif (dinamis) memastikan agar pikiran, perasaan, maupun dorongan yang tidak menyenangkan atau mengancam tidak masuk ke alam sadar. Wilayah mekanisme pertahanan menjadi area kajian yang aktif digali oleh pakar kepribadian. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gabungan antara peringkat yang diberikan oleh ketiga penilai, secara signifikan dan positif terkait dengan waktu yang dibutuhkan oleh rangsangan tersebut agar dapat dipersepsikan secara sadar. Usia dan IQ tidak terkait dengan lamanya waktu yang dibutuhkan agar rangsangan tersebut bisa dipersepsikan. 

c. Konsep Terapi
     Melalui Asosiasi bebas (free association), pasien diminta untuk mengutarakan setiap pikiran yang muncul dalam benaknya, tanpa memandang apakah pikiran tersebut ada atau tidak ada hubungannya ataupun menimbulkan rasa jijik. Tujuan asosiasi bebas adalah untuk sampai ke alam tidak sadar dengan cara mulai dari ide yang disadari saat ini, menelusurinya melalui serangkaian asosiasi, dan mengikuti kemana ide ini pergi. Proses ini tidak mudah dan sejumlah pasien tak bisa menjalani proses tersebut. Oleh karena itu, analisis mimpi menjadi teknik terapeutik yang paling disukai Freud. Agar penanganan analitis ini berhasil, libido yang semula muncul dalam bentuk gejala-gejala neurotis harus dibebaskan agar dapat melayani ego. Hal ini membutuhkan prosedur dua tahap. "Pertama, semua libido dipaksa pindah dari gejala transferens dan fokus di situ; kedua, pergulatan diarahkan pada objek yang baru ini dan melalui proses ini, libido pun terbebaskan. 
     Situasi transferens ini sangat penting dalam psikoanalisis, transferens mengacu pada perasaan seksual atau agresif yang kuat, baik positif maupun negatif, yang dikembangkan oleh pasien selama penanganan terhadap terapis mereka. Perasaan transferens ini tidak disebabkan oleh si terapis karena perasaan yang berangkat dari pengalaman masa lalu pasien, terutama dengan kedua orang tua mereka, hanya sekedar dialihkan kepada si terapis. Dengan kata lain, perasaan pasien terhadap si terapis sama seperti yang dulu mereka rasakan pada salah satu atau kedua orang tua.
     Freud menggunakan analisis mimpi untuk mengubah muatan manifes pada mimpi menjadi muatan laten yang lebih penting. Muatan manifes (manifest content) dari mimpi adalah makna mimpi pada permukaan atau deskripsi sadar yang disampaikan oleh orang yang bermimpi, sedangkan muatan laten (latent content) berarti hal-hal yang tak disadari. Asumsi dasar dari analisis mimpi Freud adalah hampir semua mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan (wish fulfillments). Sejumlah keinginan tampak jelas dan diungkapkan melalui muatan manifes, seperti pada orang yang tidur dalam keadaan lapar dan bermimpi memakan makanan enak yang banyak. Asumsi bahwa mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan, tidak  muncul pada pasien-pasien yang mengalami pengalaman traumatis. Pada orang-orang seperti ini, mimpi muncul mengikuti prinsip kompulsi repetisi (repetition compulsion) ketimbang memenuhi keinginan. Mimpi-mimpi seperti ini lazim didapati pada orang-orang yang mengalami kelainan stres pasca trauma (posttraumatic stress disorder) yang berulang kali memimpikan pengalam yang menakutkan atau traumatis.
     Freud meyakini bahwa keliru ucap atau tulis, salah baca, salah dengar, salah menaruh barang, dan selama sejenak melupakan nama atau apa yang ingin dilakukan, yang terjadi sehari-hari, bukanlah sekadar kecelakaan. Akan tetapi, justru mengungkapkan tujuan seseorang yang tak ia sadari. Parapraxes  atau keliru ucap tanpa sadar begitu lazim terjadi sehingga biasanya tidak kita perhatikan dan kita pun menampik kemungkinan bahwa mereka puya makna yang tersembunyi. Akan tetapi, Freud bersikeras bahwa kekeliruan memiliki makna; mereka mengungkapkan tujuan tidak sadar dari orang tersebut: "Kekeliruan ini bukanlah sekadar kebetulan kebetulan, tetapi tindakan mental yang serius; mereka muncul dari tindakan-tindakan yang bertentangan ini muncul ketidaksadaran, sedangkan yang lain muncul dari alam bawah sadar. Keliru ucap yang tak disadari ini serupa seperti mimpi, keduanya sama-sama hasil dari alam bawah sadar dan alam tidak sadar di mana tujuan tidak sadar begitu dominan sehingga mengganggu dan menggantikan tujuan yang ada di alam bawah sadar.

Sumber :
Feist. J & Feist G.J. (2009). Teori kepribadian Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika


Minggu, 29 Maret 2015

Psikoterapi II

PERBEDAAN PSIKOTERAPI & KONSELING

     Upaya untuk membedakan konseling dengan psikoterapi telah lama dilakukan berbagai pihak, namun tidak pernah berhasil dengan memuaskan. Karena itu bagi sekelompok ahli, upaya membedakan konseling dan psikoterapi dirasakan tidak perlu dilakukan lagi dan sebaiknya keduanya diterima sebagai kegiatan yang sinonim.
     Blocher (1966) mengemukakan ciri-cirinya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi, sebagai berikut :
1. Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan dan secara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya.
2. Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.
3. Klien adalah klien dan bukan pasien. Konselor bukanlah tokoh otoriter namun adalah seorang "pendidik" dan "mitra" dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan.
4. Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai-nilai, perasaan dan normanya sendiri; meskipun konselor tidak perlu memaksakan hal ini kepada klien, namun ia juga tidak menutupinya.
5. Konselor memusatkan pada perubahan perilaku, tidak hanya menumbuhkan pengertian.
     Perbedaan mengenai metode ini kemudian diringkas oleh Stefflre & Grant (1972) sebagai berikut :
"Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuaannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens, lebih menekankan pada situasi yang rill, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya."
     Mengenai perbedaan konseling dan psikoterapi , dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977) dan Thompson & Rudolph (1983) dibawah ini :
1. Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti : "educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time, dan short-term"
2. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh : "supportive (dalam keadaan kritis), reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long-term".
     Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson & Rudolph (1983), sebagai berikut :
1. Konseling untuk : Klien, Gangguan yang kurang serius, Masalah; jabatan, pendidikan, Berhubungan dengan pencegahan, Lingkungan pendidikan dan nonmedis, Berhubungan dengan kesadaran, Metode pendidikan.
2. Psikoterapi untuk : Pasien, Gangguan yang serius, Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan, Berhubungan dengan penyembuhan, Lingkungan medis, Berhubungan dengan ketidaksadaran, Metode penyembuhan.


BENTUK-BENTUK UTAMA TERAPI

     Beberapa bentuk utama dalam terapi, adalah sebagai berikut :
1. Terapi Rekonstruktif
     Merupakan terapi yang menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Tujuannya adalah untuk merubah kepribadian sehingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru. Cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain yang berorientasi kepada psikoanalisa dengan cara : asosiasi bebas, analisis mimpi, hipoanalisa/sintesa, narkoterapi, terapi main, terapi kelompok analitik.
2. Terapi Supportif
     Adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Psikoterapi ini juga berfungsi untuk mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan fungsi pengontrolan diri. Terakhir yang tergolong dalam psikoterapi ini adalah penyuluhan (membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih baik agar ia dapat mengatasi permasalahannya dan dapat menyesuaikan diri).
3. Terapi Redukatif
     Adalah pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasikan tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada. Cara-cara psikoterapi redukatif antara lain adalah terapi hubungan antar manusia, terapi sikap, terapi wawancara, analisa dan sintesa yang distributif, konseling terapeutik, terapi kelompok yang redukatik dan terapi somatik.

Sumber :
Gunarsa, Singgih D. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
http://id.scribd.com/doc/27950595/psikoterapi-suportif
Mappiare, Andi. (1992). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo