Kamis, 30 April 2015

PSIKOTERAPI III (BAGIAN III)

TERAPI PERSON CENTERED

     Terapi ini adalah terapi yang berpusat pada pribadi/pasien atau terapi nondirektif. Nondirektif adalah pasien sendiri yang memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapi client centered ini membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sebenarnya dengan menciptakan penerimaan diri yang dapat diwujudkan dalam hubungan terapeutik.

a. Unsur Terapi
Adapun unsur-unsur terapi adalah sebagai berikut : 
- Terapi person centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan lebih sempurna.
- Menekankan medan fenomenal (Fenomenal field) merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya, baik yang     disadari maupun yang tidak disadari. Klien tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalan sebagaimana adanya.
- Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkan bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstruktif  dimana dampak psikoterapeutik terjadi karena hubungan terapis dan klien.
- Terapi ini tidak dilakukan dengan suatu sekumpulan teknik yang khusus. Tetapi pendekatan ini berfokus pada person sehingga terapis dan klien memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbuhan.

b. Teknik Terapi
     Karena pendekatan person centered berkembang, maka terjadi peralihan dari penekanan kepribadian, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap terapis, serta pada hubungan terapeutik.
- Hubungan antara terapis dan pasien sekarang menjadi hal yang sangat penting dalam teknik. Terapis harus membawa ke dalam hubungan tersebut sifat-sifat khas yang berikut.
- Menerima. Terapis menerima pasien dengan respek tanpa menilai atau mengadilinya entah secara positif atau negatif.
- Keselarasan. Tidak ada kontradiksi antara apa yang dikatakan terapis dan yang dilakukan terapis.
- Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat khas, Terapis mampu mengkomunikasikan penerimaan, keselarasan dan pemahaman kepada pasien sedemikian rupa sehingga membuat perasaan-perasaan terapis jelas kepada pasien.
- Hubungan yang membawa akibat. Suatu hubungan yang bersifat mendukung, yang aman dan bebas dari ancaman akan muncul dari teknik-teknik diatas.

c. Konsep Terapi
     Adapun konsep-konsep terapi adalah sebagai berikut :
- Konsep diri, mengenai konsepsi seseorang mengenai dirinya.
- Diri ideal, mengenai konsep diri yang ingin dimiliki seseorang.
- Ketidakselarasan, antara diri dan pengalan yaitu suatu celah yang ada antar konsep diri seseorang.
- Ketidakmampuan menyelesaikan diri secara psikologis.
- Keselarasan antaa diri dan pengalaman (konsep seseorang tentang diri sendiri sesuai dengan apa yang dialaminya).
- Kebutuhan akan harga diri, kebutuhan untuk menghargai diri sendiri.

Sumber :
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 3. Jakarta: Kanisius
Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Eresku

PSIKOTERAPI III (BAGIAN II)

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

     Teori konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial, mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi terapi.

a.  Unsur Terapi
      Terapis dalam terapi humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana teknik yang digunakannya itu selalu mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama. Proses klien mencapai kesembuhan dalam terapi humanistik-eksistensial. Dalam terapi eksistensial, klien mampu mengalami rasa subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik, karena dia harus memutuskan ketakutan-ketakutannya, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasannya. Dalam terapi ini klien terlibat dalam pembukaan pintu menuju diri sendiri, dengan membuka pintu yang tertutup, klien mulai melonggarkan belenggu deterministik yang telah menyebabkan dia terpenjara secara psikologis. Lambat laun klien menjadi sadar, apa dia tadinya dan siapa dia yang sekarang, serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang diinginkannya. Melalui proses terapi ini klien bisa mengeksplorasi alternatif-alternatif guna membuat pandangan-pandangannya menjadi real.

b. Teknik Terapi
      Teori eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya. Metode-metode yang berasal dari teori Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam teori eksistensial-humanistik. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menempati kedudukan sentral dalam konseling adalah : Seberapa besar saya menyadari siapa saya ini ? Bisa menjadi apa saya ini ? Bagaimana saya bisa memilih menciptakan kembali identitas diri saya yang sekarang ? Seberapa besar kesanggupan saya untuk menerima kebebasan memilih jalan hidup saya sendiri ? Bagaimana saya mengatasi kecemasan yang ditimbulkan oleh kesadaran atas pilihan-pilihan ? Sejauh mana saya hidup dari dalam pusat diri saya sendiri ? Apa yang  saya lakukan untuk menemukan makna hidup ini ?. Pada pembahasan di bawah ini diungkap dalil-dalil yang mendasari praktek konseling eksistensial-humanistik. Dalil-dalil ini, yang dikembangkan dari suatu survei atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial, merepresentasikan sejumlah tema yang penting yang merinci praktek-praktek konseling.
1. Tema-tema dan Dalil-dalil Utama Eksistensial dan Penerapan-penerapan Pada Praktek Konseling
- Dalil 1 : Kesadaran Diri
     Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya mampu melampau situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri itu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Manusia bisa tampil di luar diri dan berefleksi atas keberadaannya. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi atau sebagaimana dinyatakan oleh Kierkegaard, "Semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri seseorang." Tanggung jawab berlandaskan kesanggupan untuk sadar. Dengan kesadaran, seseorang bisa menjadi sadar atas tanggung jawabnya untuk memilih. Kesadaran bisa dikonseptualkan dengan cara sebagai berikut : Umpamakan Anda berjalan di lorong yang di kedua sisinya terdapat banyak pintu, bayangkan bahwa Anda bisa membuka beberapa pintu, baik membuka sedikit ataupun membuka lebar-lebar. Barangkali, jika Anda membuka satu pintu, Anda tidak akan menyukai apa yang Anda temukan di dalamnya menakutkan atau menjijikan. Di lain pihak, Anda bisa menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh keindahan. Anda mungkin berdebat dengan diri sendiri, apakah akan membiarkan pintu itu tertutup atau terbuka.
     Apabila seorang konselor dihadapkan pada konseli yang kesadaran dirinya kurang maka konselor harus menunjukkan kepada konseli bahwa harus ada pengorbanan untuk meningkatkan kesadaran diri. Dengan menjadi lebih sadar, konseli akan lebih sulit untuk "kembali ke rumah lagi", menjadi orang yang seperti dulu lagi. Dalam pengertian yang sesungguhnya, peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi dan atas tujuan-tujuan pribadi adalah tujuan segenap konseling.

- Dalil 2 : Kebebasan dan Tanggung Jawab
      Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memililih antara altematif-altematif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri. Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan, dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Jika kesadaran dan kebebasan dihapus dari manusia, maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan eksistensial adalah bahwa individu, dengan putusan-putusannya membentuk nasib dan mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya, dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempunya. Tugas konselor adalah mendorong konseli untuk belajar menanggung resiko terhadap akibat penggunaan kebebasannya. Yang jangan dilakukan adalah melumpuhkan konseli dan membuatnya bergantung secara neurotik pada konselor. Konselor perlu mengajari konseli bahwa dia bisa mulai membuat pilihan meskipun konseli boleh jadi telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melarikan diri dari kebebasan memilih.

- Dalil 3 : Keterpusatan dan Kebutuhan Akan Orang Lain
     Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan tetapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam.  Kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain dan dengan alam menyebabkan ia kesepian dan mengalami keterasingan. Kita masing-masing memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan suatu diri, yakni menemukan identitas pribadi diri kita. Akan tetapi, penemuan siapa kita sesungguhnya bukanlah suatu proses yang otomatis; ia membutuhkan keberanian. Secara paradoksal kita juga memiliki kebutuhan yang kuat untuk keluar dari keberadaan kita. Kita membutuhkan hubungan dengan keberadaan-keberadaan yang lain. Kita harus memberikan diri kita kepada orang lain dan terlibat dengan mereka. Usaha menemukan inti dan belajar bagaimana hidup dari dalam memerlukan keberanian. Kita berjuang untuk menemukan, untuk menciptakan, dan untuk memelihara inti dari ada kita. Salah satu ketakutan terbesar dari pada konseli adalah bahwa mereka akan tidak menemukan diri mereka. Mereka hanya menganggap bahwa mereka bukan siapa-siapa. Para konselor eksistensial bisa memulai dengan meminta kepada para konselinya untuk mengakui perasaannya sendiri. Sekali konseli menunjukkan keberanian untuk mengakui  ketakutannya, mengungkapkan ketakutannya, mengungkapkan ketakutan dengan kata-kata dan membaginya, maka ketakutan itu tidak akan begitu menyelubunginya lagi. Untuk mulai bekerja bagi konselor adalah mengajak konseli untuk menerima cara-cara dia hidup di luar dirinya sendiri dan mengeksplorasi cara-cara untuk keluar dari pusatnya sendiri. Kebutuhan akan diri berkaitan dengan kebutuhan menjalani hubungan yang bermakna dengan oran lain. Jika kita hidup dalam isolasi dan tidak memiliki hubungan yang nyata dengan orang lain maka kita mengalami perasaan terabaikan, terasingkan, dan terkucilkan.

- Dalil 4 : Pencarian Makna
     Salah satu karakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangnnya untuk merasakan arti dan maksud hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas pribadi. Biasanya konflik-konflik yang mendasari sehingga membawa orang-orang ke dallam konseling adalah dilema-dilema yang berkisar pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial : Mengapa saya berada ? Apa yang saya inginkan dari hidup ? Apa maksud dan makna hidup saya ? Konseling eksistensial bisa menyediakan kerangka konseptual untuk membantu konseli dalam usahanya mencari makna hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan oleh konselor kepada konseli adalah : "Apakah anda menyukai arah hidup Anda ? Apakah Anda puas atas apa Anda sekarang dan akan menjadi apa Anda nanti ? Apakah Anda aktif melakukan sesuatu yang akan mendekatkan Anda pada ideal-diri Anda ? Apakah Anda mengetahui apa yang Anda inginkan ? Jika Anda bingung bingung mengenai siapa Anda dan apa yang Anda inginkan, apa yang Anda lakukan untuk memperoleh kejelasan ? Konselor harus menaruh kepercayaan terhadap kesanggupan konseli dalam menemukan sistem nilai yang bersumber pada dirinya sendiri dan yang memungkinkan hidupnya bermakna. Konseli tidak diragukan lagi akan bingung dan mengalami kecemasan sebagai akibat tidak adanya nilai-nilai yang jelas. Kepercayaan konselor terhadap konseli adalah variabel yang terpenting dalam mengajari konseli agar mempercayai kesanggupannya sendiri dalam menemukan sumber nilai-nilai baru dari dalam dirinya.

- Dalil 5 : Kecemasan Sebagai Syarat Hidup
     Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasi yang kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memilih. Kebanyakan orang mencari bantuan profesional karena mereka mengalami kecemasan atau depresi. Banyak konselli yang memasuki kantor konselor disertai harapan bahwa konselor akan mencabut penderitaan mereka atau setidaknya akan memberikan formula tertentu untuk mengurangi kecemasan mereka. Konselor yang berorientasi eksistensial, bagaimanapun, bekerja tidak semata-mata untuk menghilangkan gejala-gejala atau mengurangi kecemasan.

c. Konsep Terapi 
     Pendekatan eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan eksistensial-humanistik dalam konseling menggunakan sistem teknik-teknik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk landasn bagi praktek konseling, yaitu :
- Kesadaran Diri
     Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadarn untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebeas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para eksistensialis menekankan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

- Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Kecemasan
    Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkann atas keterbatasannya da atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa eksetensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

- Penciptaan Makna
     Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia  lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tahap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menjadi "sakit".

Sumber :
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama

Rabu, 29 April 2015

PSIKOTERAPI III (BAGIAN I)

TERAPI PSIKOANALISA

     Psikoanalisa bagi Freud merupakan sebuah metode yang menjanjikan hasil lebih sistematis dan lebih seksama dibanding metode penyelidikan dari seorang otobiografer yang paling jujur sekalipun. 3 atau 4 tahun kemudian setelah Freud menemukan teori psikoanalisis, selama dia bekerja dengan "buku mimpi" nya, berbagai penemuan baru ikut meramaikan hari-harinya. 

a. Unsur Terapi
     Unsur-unsur dalam terapi psikoanalisa ada tiga, yaitu :
- Id  
     Yaitu tidak disadari, kacau, tidak berhubungan dengan realitas, dan mengikuti prinsip kepuasan.

- Ego
    Adalah bagian eksekutif dari kepribadian, berhubungan dengan dunia nyata, dan mengikuti prinsip realitas.

- Super Ego
    Mengikuti prinsip moral dan idealistis yang mulai terbentuk setelah masalah oedipus complex teselesaikan. 

b. Teknik Terapi 
     Pada bagian ini, kita akan melihat teknik-teknik terapeutik awal Freud dan teknik yang berkembang kemudian berkembang kemudian serta pandangannya tentang mimpi dan keliru ucap yang tidak disadari.

- Teknik Terapeutik Awal Freud
     Sebelum menggunakan teknik psikoterapi asosiasi bebas yang agak pasif, Freud bergantung pada pendekatan yang jauh lebih aktif. Dalam Kajian tentang Histeria, Freud menggambarkan teknik yang ia gunakan membuka kenangan masa kanak-kanak yang mengalami represi. prosedur yang sangat sugestif seperti ini memang memberikan hasil yang Freud butuhkan, yaitu pengakuan akan godaan masa kanak-kanak. Sembari menggunakan tafsir mimpi dan hipnosis, Freud menyampaikan pada pasiennya bahwa gambaran pengalam seksual masa kanak-kanak akan muncul. Seiring dengan berjalannya waktu, Freud kemudian menyadari bahwa taktiknya yang sangat sugestif dan bahkan penuh paksaan seperti ini memunculkan ingatan tentang godaan pada para pasiennya dan ia tak punya banyak bukti untuk memastikan apakah ingatan tersebut benar-benar terjadi. Freud semakin menyakini bahwa gejala neurotis terkait dengan fantasi masa kanak-kanak ketimbang kenyataan material dan ia secara bertahap mengadopsi teknik psikoterapeutik yang lebih pasif.

- Teknik Terapeutik Freud yang Berkembang Kemudian
     Tujuan utama dari terapi psikoanalisis Freud yang berkembang kemudian adalah mengungkapkan ingatan yang direpresi melalui asosiasi bebas dan analisis mimpi. Melalui asosiasi bebas (free association), pasien diminta untuk mengutarakan setiap pikiran yang muncul dalam benaknya, tanpa memandang apakah pikiran tersebut ada atau tidak ada hubungannya ataupun menimbulkan rasa jijik. Tujuan asosiasi bebas adalah untuk sampai ke alam tidak sadar dengan cara mulai dari ide yang disadari saat ini, menelusurinya melalui serangkaian asosiasi, dan mengikuti kemana ide ini pergi. Proses ini tidak mudah dan sejumlah pasien tak bisa menjalani proses tersebut. Oleh karena itu, analisis mimpi menjadi teknik terapeutik yang paling disukai Freud. 

- Analisis Mimpi
     Asumsi dasar dari analisis mimipi Freud adalah hampir semua mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan (wish fulfillments). Sejumlah keinginan tampak jelas dan diungkapkan melalui muatan manifes, seperti pada orang yang tidur dalam keadaan lapar dan bermimpi memakan makanan enak yang banyak. Asumsi bahwa mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan, tidak muncul pada pasien-pasien yang mengalami pengalaman traumatis. Pada orang-orang seperti ini, mimpi muncul mengikuti prinsip kompulsi repetisi ketimbang memenuhi keinginan. Mimpi-mimpi seperti ini lazim didapati pada orang-orang yang mengalami kelainan stress pasca trauma (posttraumatic stress disorder) yang berulang kali memimpikan pengalaman yang menakutkan atau traumatis. Freud meyakini bahwa mimpi dibentuk di alam tidak sadar, tetapi mencoba untuk ke alam sadar. Agar bisa disadari, mimpi harus bisa menyelinap melewati sensor pertama dan akhir. Bahkan, saat dalam keadaan tidur pun para penjaga ini tetap waspada sehingga materi-materi psikis tidak sadar perlu bersembunyi dalam selubung penyamaran. Selubung ini bisa bekerja dengan dua dasar-kondensasi dan pengalihan. Dalam menafsirkan mimpi, Freud biasanya mengikuti satu dari dua metode. Metode pertama adalah meminta pasien untuk mengaitkan mimpi dengan semua hal yang berhubungan dengan mimpi tersebut, tanpa memperhatikan apakah hal-hal tersebut benar-benar terkait atau keterkaitannya tidak logis. Apabila orang yang bermimpi tidak mampu mengaitkan hal-hal tersebut, maka Freud menggunakan metode kedua-simbol simbol mimpi-untuk mengungkapkan elemen-elemen tidak sadar di balik muatan manifes. Tujuan dari kedua metode tersebut (asosiasi dan simbol) adalah untuk menelusuri bagaimana mimpi itu terbentuk sampai akhirnya menjadi muatan laten.

- Proses Mental Tidak Sadar
     Kebanyakan ilmuwan dan filsuf mengakui dua bentuk kesadaran yang berbeda.  Pertama adalah kondisi tidak sadar atau tidak terjaga dan kedua adalah kondisi sadar. Kondisi tidak sadar disebut sebagai "kesadaran inti" (core consciousness) sementara kondisi sadar disebut sebagai "kesadaran yang diperluas" (extended consciousness). Batang otak dan sistem yang mengaktivasinya secara khusus merupakan bagian dari otak yang secara langsung terkait dengan kesadaran inti atau ketidaksadaran dalam arti kondisi tak terjaga. 

- Kesenangan dan Id : Halangan dan Ego
     Pada tahun 1923, ketika Freud mengubah pandangannya tentang bagaimana pikiran bekerja dan mengusulkan pandangan struktural tentang id, ego, dan superego di mana ego menjadi struktur yang sebetulnya tak disadari, tetapi memiliki fungsi utama menghalang-halangi dorongan. Apabila bagian otak yang berfungsi menghalangi dorongan dan impuls ini rusak, maka kita bisa melihat adanya peningkatan pada dorongan-dorongan memuaskan kesenangan yang berbasis pada Id. Inilah yang terjadi pada saat sistem limbik frontal rusak. 

- Represi, Halangan, dan Mekanisme Pertahanan
     Salah satu komponen utama dari teori Freud adalah mekanisme pertahanan, khususnya represi. Alam tidak sadar secara aktif (dinamis) memastikan agar pikiran, perasaan, maupun dorongan yang tidak menyenangkan atau mengancam tidak masuk ke alam sadar. Wilayah mekanisme pertahanan menjadi area kajian yang aktif digali oleh pakar kepribadian. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gabungan antara peringkat yang diberikan oleh ketiga penilai, secara signifikan dan positif terkait dengan waktu yang dibutuhkan oleh rangsangan tersebut agar dapat dipersepsikan secara sadar. Usia dan IQ tidak terkait dengan lamanya waktu yang dibutuhkan agar rangsangan tersebut bisa dipersepsikan. 

c. Konsep Terapi
     Melalui Asosiasi bebas (free association), pasien diminta untuk mengutarakan setiap pikiran yang muncul dalam benaknya, tanpa memandang apakah pikiran tersebut ada atau tidak ada hubungannya ataupun menimbulkan rasa jijik. Tujuan asosiasi bebas adalah untuk sampai ke alam tidak sadar dengan cara mulai dari ide yang disadari saat ini, menelusurinya melalui serangkaian asosiasi, dan mengikuti kemana ide ini pergi. Proses ini tidak mudah dan sejumlah pasien tak bisa menjalani proses tersebut. Oleh karena itu, analisis mimpi menjadi teknik terapeutik yang paling disukai Freud. Agar penanganan analitis ini berhasil, libido yang semula muncul dalam bentuk gejala-gejala neurotis harus dibebaskan agar dapat melayani ego. Hal ini membutuhkan prosedur dua tahap. "Pertama, semua libido dipaksa pindah dari gejala transferens dan fokus di situ; kedua, pergulatan diarahkan pada objek yang baru ini dan melalui proses ini, libido pun terbebaskan. 
     Situasi transferens ini sangat penting dalam psikoanalisis, transferens mengacu pada perasaan seksual atau agresif yang kuat, baik positif maupun negatif, yang dikembangkan oleh pasien selama penanganan terhadap terapis mereka. Perasaan transferens ini tidak disebabkan oleh si terapis karena perasaan yang berangkat dari pengalaman masa lalu pasien, terutama dengan kedua orang tua mereka, hanya sekedar dialihkan kepada si terapis. Dengan kata lain, perasaan pasien terhadap si terapis sama seperti yang dulu mereka rasakan pada salah satu atau kedua orang tua.
     Freud menggunakan analisis mimpi untuk mengubah muatan manifes pada mimpi menjadi muatan laten yang lebih penting. Muatan manifes (manifest content) dari mimpi adalah makna mimpi pada permukaan atau deskripsi sadar yang disampaikan oleh orang yang bermimpi, sedangkan muatan laten (latent content) berarti hal-hal yang tak disadari. Asumsi dasar dari analisis mimpi Freud adalah hampir semua mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan (wish fulfillments). Sejumlah keinginan tampak jelas dan diungkapkan melalui muatan manifes, seperti pada orang yang tidur dalam keadaan lapar dan bermimpi memakan makanan enak yang banyak. Asumsi bahwa mimpi merupakan upaya pemenuhan keinginan, tidak  muncul pada pasien-pasien yang mengalami pengalaman traumatis. Pada orang-orang seperti ini, mimpi muncul mengikuti prinsip kompulsi repetisi (repetition compulsion) ketimbang memenuhi keinginan. Mimpi-mimpi seperti ini lazim didapati pada orang-orang yang mengalami kelainan stres pasca trauma (posttraumatic stress disorder) yang berulang kali memimpikan pengalam yang menakutkan atau traumatis.
     Freud meyakini bahwa keliru ucap atau tulis, salah baca, salah dengar, salah menaruh barang, dan selama sejenak melupakan nama atau apa yang ingin dilakukan, yang terjadi sehari-hari, bukanlah sekadar kecelakaan. Akan tetapi, justru mengungkapkan tujuan seseorang yang tak ia sadari. Parapraxes  atau keliru ucap tanpa sadar begitu lazim terjadi sehingga biasanya tidak kita perhatikan dan kita pun menampik kemungkinan bahwa mereka puya makna yang tersembunyi. Akan tetapi, Freud bersikeras bahwa kekeliruan memiliki makna; mereka mengungkapkan tujuan tidak sadar dari orang tersebut: "Kekeliruan ini bukanlah sekadar kebetulan kebetulan, tetapi tindakan mental yang serius; mereka muncul dari tindakan-tindakan yang bertentangan ini muncul ketidaksadaran, sedangkan yang lain muncul dari alam bawah sadar. Keliru ucap yang tak disadari ini serupa seperti mimpi, keduanya sama-sama hasil dari alam bawah sadar dan alam tidak sadar di mana tujuan tidak sadar begitu dominan sehingga mengganggu dan menggantikan tujuan yang ada di alam bawah sadar.

Sumber :
Feist. J & Feist G.J. (2009). Teori kepribadian Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika